Spritualitas Joker Merah

SHARE

Malam itu seorang pria duduk sendiri di depan kontrakannya sebut saja namanya tapak, tak ada cahanya sama sekali kecuali cahaya rokok yang berada diantara jari telunjuk dan jari tengahnya, asapnya menari-nari tertebak angin, sambil menikmati segelas kopi yang begitu sangat nikmat hasil racikan sendiri.

Sudah hampir dua jam dia ditemani sepi, entah sepi karena dia rindu kampung halamannya atau realitas hatinya yang sepi. Sebenarnya sehabis ngaji dan sholat isya dia sempat mampir disalah satu kontrakan temannya yang tepat berada didepan masjid, tetapi tetap dia merasakan kesunyian ditengah keramaian. Mungkin kesunyian itu disebabkan oleh hiruk pikuknya dunia yang begitu membosankan yang tak ada nilai-nilai akhlakinya, dunia memang sejatinya ramai dipenuhi dengan manusia-manusia yang pintar tapi tidak benar, belum lagi hampir setiap malam dunia ini diramaikan oleh suara TV yang memutar siaran itu-itu mulu, politiklah, iklan, bahkan sinetron yang tidak henti-hentinya memberikan mimpi kehidupan makhluk-makhluk cantik gagah bermobil mewah dan berumah megah.

Dikesunyian dan kesendiriannya itu pikirannya mengembara memunguti mutiara hikmah dari perjalanan hidup yang telah dilewati. Sesekali dia tersenyum, lain waktu dia menggeleng-geleng kepala. Tidak bisa disembunyikan, disudut matanya ada titik air kesedihan yang tidak ingin dia keluarkan. Malam itu dia cuman ditemani suara arus air yang tak jauh dari kontrakannya, melantunkan harmoni alam semesta.

Ketika sedang asyik mengembarakan lamunan pada kenangan yang tersimpan dilaci pikiran, dia dikagetkan oleh suara adzan subuh.  

Pas ketika sayup-sayup teriakan Allahu akbar Allahu akbar terdengar, sontak tapak teringat suasana dimana dia pernah mondok di Pondok Pesantren Salafiyah Parappe. Pondok itu banyak memberikan pengalaman spritual yang sangat dalam, belum lagi sitapak mengenal “Ilmu Nahwu Sharaf” dari pondok tersebut.

Guru-guru dipondok tersebut memang tegas-tegas mempesona, dalam artian ketegasannya membawa aura-aura positif, salah satu guru yang ketegasannya tiada tandingannya ialah Ust Marfu sapaan akrabnya dikalangan guru-guru yang lain ialah “amba” beliau sangat tegas tapi disisi yang lain dia sebenarnya humoris juga, saking tegasnya santri-santri punya sapaan tersendiri yakni “joker merah”.

Ketegasan Ust Marfu ini bisa dilihat dari respon santri ketika mengahdapi beliau,  salah satu contoh ketika santri riuh dan gaduh disuatu tempat entah dalam kelas atau diluar kelas hanya melihat beliau saja santri lansung diam, bagai melihat seorang pangeran saja seketika ruangan jadi sunyi, karena ketegasan dan karismanya si joker merah sanggup mengheningkan kegaduhan, karisma yang dia punya bukan hanya ketegasannya saja, tapi dia mampu memposisikan kapan harus dia bercanda dengan santri, kapan tidak. Yang menarik selain dari ketegasan yang dimiliki adalah pakaiannya. Pakaian yang sangat sederhana yang tak lazim dimiliki oleh anak kiai di daerah polman, kopiah kadang hitam kadang putih, baju kokoh yang putuh, dan sarung yang bermotif alakadarnya. Namun, pakaian yang sederhana itu tak membuat hilang rasa hormat para santri. 

Ust. Marfu ini merupakan anak ke empat dari enam bersaudara, putra pimpinan AG. KH. Abd. Latif Busyrah selaku pimpinan pondok pesantren salafiah parappe ini satu-satunya yang paling gagah, yaa.. karena memang beliau satu-satunya laki-laki.

Banyak cerita unik yang Tapak alami di pondok pesantren salafiyah parappe, apalagi soal Ust Marfu’. Belau diposisikan sebagai TIBKAM (keamanan pondok), persoalan perizinan, hukum menghukum beliau ahlinya. Hari jum’at merupakan hari yang Tapak takuti ketika mondok, bukan karena pemahaman masyarakat yang mengatakan bahwa hari jum’at ialah hari mistik, tapi hari jum’at itu hari pengadilan bagi santri salafiyah parappe, setelah ziarah kubur santri dikumpulkan di depan rumah si joker merah, berbagai catatan pelanggaran sudah berada dalam genggamannya, hukuman yang paling ringan yaa… angkut pasir yang di ambil dari sungai perbatasan antara Bonde dan Parappe, santri salafiyah parappe menyebutnya sungai batang emas, sedangkan hukuman terberatnya ialah di gundul atau di botak, hukuman ini khusus untuk santri yang bandelnya kelas atas. Hari jum’at yang Tapak alami ini bagaikan hari pengadilan di akhirat, siyapa yang tidak punya catatan pelanggaran maka dia selamat dari sang mengadili, siyapa yang mempunyai catatan pelanggaran, maka siap-siap berurusan dengan sang yang mengadili.

Setelah Tapak selesai sholat subuh, saat berjalan menuju kontrakan tapak tak melirikkan mata sedikit pun ke arah jamaah subuh, yahh.. tapak yakin para jamaah subuh itu memandangi tapak seperti mereka sedang melihat malaikat yang sangat gagah, Tapak yakin mereka mencium bau parfum yang Tapak pakai, karena tapak yakin bau parfum molto yang dicampur air sebagai pengganti parfum asli… yaa seperti kebiasaan mondok, ketika tak ada parfum, maka penggntinya molto campur air, kemudian dimasukkan dalam botol parfum benaran, hal ini sangat ekonomis dan pasti orang mengira kita rajin nyuci baju, padahal sejatinya tidak.

Saat di kontrakan, saat tapak hendak mulai menyapu, entah kenapa fikiran ini selalu tertuju ke Ust. Marfu, mungkin Ketegasannya yang masih ternyiang-nyiang yang memang sejatinya membentuk pola hidup lebih baik, ketegsannya yang mengajarkan kita untuk disiplin, menghormati guru masih tertanam dan sulit terlupakan. atau karena Tapak rindu dengan suara serak-serak basahnya si joker merah, memang yang mengimami tatap ketika sholat subuh tadi suaranya tidak ada bandingannya dengan suara Ust. Joker merah. Ketika Ust. Marfu mengimami tapak pasti khusyu dalam menjalankan sholat, bukan saja tapak yang mengalami hal demikian teman-teman tapak juga sangat mengagumi suara ust joker merah tersebut, memang dia seorang Hafizh yang bukan sekedar hafizh tapi mengerti ilmu tentang hafizh, aplagi soal baca kitab kuning, tidak ada yang meragukan itu.

Sejatinya Tapak agak risih dengan fenomena munculnya hafizh dan hafizhah sekarang ini, bukan risih karena menghafal al-Qur’anya, tetapi kebanyakan hafizh zaman sekarang ketika menghapal al-Qur’an hanya sekedar menghafal al-Qur’an dan metode menghafal al-Qur’an akan tetapi tidak mempelajari isi-isi dalam al-Qur’an juga, sehingga negatifnya mereka menggunakan hafalannya hanya untuk mencari rezeki atau kasarnya memperjual belikkan hafalannya atau ayat-ayat al-Qur’an.

Persoalan hafalan Qur’an ini sempat juga disesalkan oleh Dr. Wajidi Sayadi dalam seminarnya di kantor Kementrian Agama Polewali Mandar, beliau mengungkapkan bahwa hafizh-hafizhah sekarang hanya berputar pada ranah hafalan, tanpa memperhatikan ilmu al-Qur’an, contoh ilmu munasabah ayat, ilmu asbab al-Nuzul dana lain sebagainya.

Sembari terus membersihkan halaman dengan sapu lidi yang masih digenggam tapak, tapak teringat salah satu pesan si joker merah, semoga beliau masih mengingatnya, ust yang pecinta Club Barselona ini pernah memberikan pesan yang sangat sederhana tapi muatan hikmanya jauh labih dalam, beliu mengatakn bahwa “dizaman sekrang ini, kuliah adalah kebutuhan bagi mereka yang mengikuti zaman, apalagi zaman murni duniawi, ust, Marfu meyakini bahwa belajar agama di pesantren jauh lebih mendalam, namun masyarakat kita ini masyarakat yang belum dewasa, mereka hanya mencium keilmuan seseorang ketika mempunyai gelar”. Penuturan ini selalu merejai fikiran tapak, dan pada akhirnya tapak mengerti esensi dari penuturan si joker merah. Pada esensinya segala macam keilmuan sudah tertampung dan tertanan di pesantren. Bahkan Tapak pernah baca pada suatu buku, bahwa pesantren itu indigenous Indonesia. Pesantren bukan hanya memiliki makna keislaman namun keindonesiaan juga. Ketika Islam datang ke tanah kita tercinta ini, dalam urusan pendidikan Islam hanya tinggal melanjutkan tradisi Hindu-Budha dengan cara mengislamkannya. Tradisi pesantren yang merupakan warisan Hindu-Budha tidaklah dibuang. Hanya diislamkn saja.

Begitulah kearifan metode para wali di Indonesia dahulu, mereka tidak menghancurkan tradisi, tetapi memeliharanya dengan merubah subtansi dari tradisi itu. Sayang, tanah air kita ini dijajah hampir tiga setengah Abad. Dari penjajahan inilah masyarakat kita banyak yang lupa akan tradisi pendidikan pesantren warisan nenek moyang. Ketika para penjajah membangun  sekolah, mata kita silau akan tradisi pendidikan yang mulai dibangun ditanah air kita ini. Sedikit demi sedikit, kharisma pesantren mulai surut di jiwa masyarakat kita. Sekolah pun menjadi kebanggaan dan cita-cita. Jujur saja si Tapak selalu membayangkan atau berkhayal, seperti dianjurkan suatu buku, yaitu bilik-bilik pesantren karya Nurkhalis Madjid, “seandainya negri kita ini tidak mengalami penjajahan, mungkin pertumbuhan sistem pendidikannya akan mengikuti jalur-jalur yang ditempuh pesantren. Sehingga perguruan-perguruan tinggi yang ada sekarang ini tidak akan berupa STAI, STAIN, UIN, ataupun yang lainnya. Tetapi namanya ‘universitas’ Parappe, salosoang, lemo, kanang, sidogiri dan lain sebagainya.

Khayalan ini beralasan. Sebab pertumbuhan dinegeri yang tidak terjajah katakan semisal negara-negara di Barat, pertumbuhan sistem pendidikannya bermula tradisi pendidikan mereka yang beriorentasi keagamaan. Harvard University misalkan, universitas di Boston ini dahulunya adalah sekolah para pendeta dan sekarang menjadi salah satu lembaga pendidikan yang paling dikagumi dunia.

Duuh.. khayalan Tapak terlalu jauh.. tapi sejatinya tapak berbahagia karena dia lulusan pesantren, otomotis Tapak masih menjaga nilai-nilai luhur yang ditanamkan nenek moyang terdahulu, maka banggalah menjadi santri dan mondok disuatu pesantren. Terima kasih Ust marfu (ust Joker merah), guru-guruku yang dipondondok pesantren salafiyah Parappe, terutama pimpinan pondok yakni AG. K.H Abd Latif Busyrah semoga selalu diberi kesehatan dan diberi panjang umur, mereka guru-guruku tanpa terkecuali ibarat mutiara yang dengan sabar dan telaten menggali khazanah kitab kuning, untuk meyakinkan publik bahwa keilmuan tanpa dibarengi dengan akhlak maka keilmuan itu akan berubah menjadi sesuatu yang menyeramkan. Wallahu a’lam…         

Penulis adalah Mahasiswa Pasca Jurusan Studi al-Qur'an dan al-Hadis Fakultas Ushuluddin, Filsafat dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Parappe