SPIRITUALITAS RAMADHAN : Inspirasi Pola Hidup Ramadhan, keseimbangan antara Rohani dan Jasmani part

SHARE

 

Salah satu yang menjadi tujuan berpuasa pada bulan ramadan adalah kemampuan seseorang untuk menahan, menekan atau mengurangi pemenuhan kebutuhan jasmani yang selama 11 bulan mengambil porsi lebih banyak dari segala aspek kehidupan, lalu kemudian lebih banyak memberikan kebutuhan rohani. 

 

Dalam realitas kehidupan, kita sering tidak jujur dan tidak adil kepada diri sendiri dalam memenuhi keseimbangan kebutuhan rohani dan jasmani. Jika kita menghitung kebutuhan jasmani dan Rohani. Misalnya kebutuhan jasmani, berapa banyak waktu dan materi yang dikeluarkan, seperti uang, makanan, rumah, baju, sepatu, mobil, HP, jam, dan banyak lagi kebutuhan jasmani lainnya yang kita keluarkan setiap harinya, dengan harapan kebutuhan jasmani bisa terpenuhi dan sehat.

 

Selanjutnya, menghitung waktu dan materi yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan rohani agar ia juga sehat, seperti zikir, salat, puasa, sedekah, membaca al-Qur’an, mendengar ceramah dan lain-lain. Pemenuhan kebutuhan jasmani selalu mengambil porsi lebih besar, maka harapan untuk memiliki Rohani yang lebih sensitif terhadap kebenaran yang kemudian menciptakan sifat-sifat istikamah atau lebih peka, tidak akan pernah terwujud. Sementara kita sepakat bahwa esensi dari kehidupan manusia adalah kehidupan rohani. 

  

Khusus pada aspek makanan, maka perlu dipahami bahwa puasa bukanlah memindahkan jadwal makan dari siang hari ke malam hari, akan tetapi lebih pada bagaimana kita melakukan kontrol dan penghematan dari pola makan yang tidak terkontrol dan tak tertabatas menjadi pola makan yang terkontrol dan terukur agar porsi waktu ibadah lebih banyak.

 

Gambaran realitas kebutuhan rohani yang tidak terpenuhi, misalnya jika ada imam shalat bacaannya agak panjang, maka sebagian ma’mum menggerutu dengan mengatakan bahwa bacaan imam shalat sangat panjang, padahal bacaan imam tersebut hanya lebih 1-2 menit dari biasanya. Ketika mendengan khutbah atau ceramah, lebih 1-5 menit dari waktu biasanya, maka biasanya jama’ah mulai gelisah, batuk-batuk dan sebagainya, akan tetapi kalau berada pada suatu acara tertentu, seperti acara makan, nonton, berolahraga, bermain, sampai berjam-jam, tidak merasa lama. Inilah salah satu bukti katidak seimbangan antara kebutuhan rohani dan jasmani

 

Berdasarkan uraian di atas, maka pola hidup Ramadan bisa menjadi inspirasi pola hidup di luar ramadan, untuk mewujudkan kualitas pribadi dalam memenuhi kebutuhan Rohani dan jasmani, sehingga keduanya berjalan seimbang dan saling melengkapi dan Rohani dan jasmani menjadi sehat serta berfungsi maksimal sesuai fungsinya masing-masing. (Ramadan, Majene 8 Maret 2025).

 

#PKMJP salafiyah parappe putri