RAMADHAN MEMBANGUN SPIRITUALITAS: Berguru Kepada Allah

SHARE

Kalimat “berguru kepada Allah”, pada judul tulisan ini bukanlah kalimat popular yang biasanya digunakan kebanyakan orang, bahkan kalimat ini terdengar aneh karena berbeda dengan yang biasanya kita dengar dan pahami bahwa berguru itu adalah berguru kepada manusia. Dan kalimat pada judul ini sesungguhnya adalah judul buku yang ditulis oleh seseorang yang bisa dikatakan sebagai praktisi tasawuf yaitu Abu Sangkan. Namun beliau menjelaskan dalam buku tersebut bahwa kalimat ini tidak bermaksud menghilangkan arti guru yang disandang oleh manusia apalagi merendahkan martabat manusia sebagai pengajar dan pendidik, akan tetapi hal ini merupakan penegasan hakikat kekuasaan Allah, agar manusia menyadari bahwa kekuasaan, kekuatan, kepandaian serta kehebatan yang dimilikinya adalah milik Allah yang akan diambil pada saatnya. 

Salah satu permasalahan yang menjadi poin pembahasan dalam buku tesebut adalah masalah hati, sekaligus tulisan ini akan fokus pada kajian tentang hati manusia yang menurutnya merupakan kunci pokok menuju pengetahuan tentang Tuhan. Hati juga berperan sebagai pintu dan sarana Allah memperkenalkan diri-Nya. Hal ini dapat kita lihat pada salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud yang berbunyi; “tidak dapat memuat zat-Ku, bumi dan langit-Ku kecuali hati hambaku yang mukmin lunak dan tenang”. 

Selain itu, hati juga adalah tempat dimana Allah mengungkapkan diri-Nya sendiri kepada manusia, kehadirannya terasa dalam hati, bahkan wahyu diturunkan ke dalam hati para Nabi, seperti dalam Qs. Al-Baqarah; 97. “Maka Jibril telah menurunkannya (al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan izin Allah, membenarkan wahyu sebelumnya menjadi petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang beriman”.

Lebih dalam lagi melihat dan mengkaji secara esensi hati, maka kita temukan bahwa hati menjadi pusat potensi pemahaman dan ingatan (zikr). Penjelasan yang tegas dalam hal tersebut termaktub dalam Qs. Al-haj; 46. “Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, supaya hatinya dapat memahami/memikirkan dan memiliki telinga untuk mendengar. Sesungguhnya bukanlah mata yang buta, tapi yang buta itu adalah hati yang ada dalam dada”. Lebih kongkrit lagi dijelaskan dalam Qs. Al-A’raf; 179. “… mereka mempunyai hati, tapi tidak dipergunakan untuk memahami (Ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata, tapi tidak dipergunakan untuk melihat, memiliki telinga tapi tidak digunakan untuk mendengar, mereka itu seperti binatang ternak bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai”.

Pada ayat tersebut ditegaskan bahwa hatilah yang dituntut untuk memahami ayat-ayat Allah, bahkan bagi seseorang yang tidak menggunakan potensi hati, maka Allah mengklaimnya sebagai manusia yang seperti binatang, bahkan lebih lagi. Dengan demikian, mengikut sertakan hati dalam segala aktivitas merupakan keniscayaan, karena Allah telah menegaskan bahwa prilaku ibadah seseorang tidak bisa hanya dilihat dari sekedar syarat sah dan rukun syariatnya saja, akan tetapi harus sampai kepada pemurnian hati yakni keikhlasan. (Majene, Ramadhan, 23 Mei 2020).

#Penulis adalah alumni dan Mudir Ma'had Aly Al Lathifiyah Salafiyah Parappe