MARI MATTARAWE BUKAN MATTABALER

SHARE

Selain berpuasa, bulan Ramadan juga dibedakan dengan ibadah lainnya dengan salat tarawih. Salat tarawih merupakan salat sunah di setiap malam pada bulan Ramadan selepas salat isya. Salat tarawih dapat dilakukan sendiri atau secara berjamaah di masjid. Jumlah rakaat salat tarawih pun beragam ada yang delapan rakaat dengan dua kali salam dan 20 rakaat. Biasanya salat ini dilanjutkan dengan salat witir sebanyak tiga rakaat.

Salat Tarawih disebut memiliki banyak keutamaan lantaran hanya dapat dilakukan di bulan Ramadan, bulan yang penuh rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa. Berdasarkan hadis dari Tirmidzi, salat tarawih disebut memiliki pahala yang serupa dengan salat semalam suntuk.

"Sesungguhnya siapa saja yang salat bersama imam hingga imam itu selesai, maka ia dicatat telah mengerjakan shalat semalam suntuk" .

Sejujurnya tulisan ini berangkat dari pengamatan penulis dalam menyikapi tingkahlaku setiap orang dalam melaksanakan ibadah shalat sunnah tarwih di masjid. Dalam hal ini penulis membagi atas tiga golongan. Namun, sebelum kita beralih pada pembagian tingkah laku orang dalam melaksanakan sholat tarwih di masjid, alangkah baiknya kita membahas persoalan istilah “mattarawe” dan “mattabaler” terlebih dahulu.

Istilah mattarawe merupakan istilah yang dipergunakan orang Sulawesi pada umumnya dalam menyebut kata tarwih. Misalkan dalam suku Mandar ialah “inggai lamba mattarawe” (ayo berangkat/pergi/menunaikan shalat tarwih), kata “ma” merupakan imbuhan pada kata “tarawe”. Istilah “mattarawe” ini lebih kepada bentuk tindakan (ada aktifitas didalamnya). Adapun makna subtansial “mattarawe”  tidak berbeda dengan kata “tarwih” itu sendiri, hanya pada persoalan kata. Sedangkan “mattabaler” merupakan bahasa Mandar yang berasal dari kata “baler” yang berimbuhan “ma”, dalam hal ini suatu bentuk tindakan yang ranahnya lebih banyak pada persoalan negatif. Dalam Bahasa indonesi padanan kata yang cocok untuk istilah “baler” ialah genit, salah satu contoh dalam kalindaqdaq  mappakaingaq (kritik sosial) Mandar  yakni:

Muaq diang to mawuweng baler mendulu,

Alangi rottaq patuttuang tondinnaq

(bila ada orang tua genit kembali,

Ambilkan sendok nasi pukulkan ke tengkuknya)

Pitu tokke pitu sassa

Satindorang buliliq

Sangging me uwang

Baleri tomawuweng

(tujuh tokek tujuh cicak

Dan seiringan kadal

Semuanya berkata

Genit lagi si orang tua).

 

Tiga tingkah laku orang dalam melaksanakan shalat tarwih di masjid menurut pengamatan penulis ialah:

Pertama, mengetahui makna subtansial shalat sunnah tarwih. Orang yang berada dalam golongan ini melaksanakan shalat sunnah tarwih bukan hanya sekedar rukuk, sujud dan hitungan rakaat shalat tarwih akan tetapi betul-betul mengetahui bahwa saat menunaikan salat Tarawih di masjid, selain mendapatkan pahala dari salat itu sendiri, seseorang juga bisa melakukan silaturahmi, mendengarkan tausiyah yang bermanfaat untuk menambah ilmu, serta menjadi salah satu bentuk interaksi sosial yang mungkin diabaikan selama di luar bulan Ramadan.

Orang-orang yang berada pada golongan ini, memiliki kesadaran untuk selalu merendahkan kepalanaya dari keinginan-keinginan lahiriah yang berupa anggota-anggota badan dengan kenikmatan yang diinginkan oleh anggota-anggota tersebut. Tujuannya untuk menemukan kenikmatan yang sebenarnya yakni ketenangan dan keterangan batin.

Kedua, hanya sekedar mengetahui bahwa shalat sunnah tarwih di masjid itu mendapat pahala, tanpa mengetahui esensial shalat tarwih itu sendiri. Orang-orang yang berada dalam golongan ini banyak kita temui dalam masyarakat, yang memang betul-betul aktif dan rajin melaksanakan shalat tarwih di masjid, dan orang-orang yang berada pada golongan ini betul-betul memanfaatkan bulan Ramadhan sebagai penebus dosa, entah apakah selepas dari bulan Ramdhan mereka aktif lagi dalam melakukan hal-hal yang bertentangan dengan aturan Agama atau tidak.

Dan yang ketiga,  orang yang mattabaler dalam mattarawe. Golongan ini yang sangat banyak kita dapati dalam masyarakat ketika tarwihan di masjid, mengutamakan style of life (gaya hidup) daripada style of mind (gaya fikir). Orang-orang yang berada dalam golongan ini menurut penilis ialah memanfaatkan bulan ramadhan atau tarwihan di masjid sebagai ajang cari cewe bagi laki-laki dan cari cowo buat perempuan tua maupun muda semuanya sama. Golongan orang yang memanfaatkan bulan ramdhan sebagai ajang untuk baler-balerang ini bisa kita liat dari tingkah lakunya yang sejatinya melenceng dari aturan dalam beribadah. Bagi laki-laki misalkan, di awal malam tarwihan begitu sangat bersemangat, dan segala macam persiapan untuk shalat tarwih di masjid sudah jauh-jauh hari dipersiapkan, mulai dari pakaian baru (baju, kopiah, sarung),  parfum baru, dan penampilan baru, mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki begitu sangat detail diperhatikan, kegunaannya ialah tiada lain hanya untuk baler. Bukan hanya dari kaum laki-laki, dari kaum perempuan pun tak mau kalah dalam hal penampilan misalkan, mulai dari memakai bibir merah, bedak, menghitamkan alis, memakai mukena yang baru, bahkan parfum yang begitu sangat menyengat hidung, yang seharusnya hal yang demikian bukan tujuan utama dalam melaksanakan shalat tarwih.

Sebagai kesempulan, bahwasanya dibulan ramdhan ini terutama shalat sunnah tarwih di masjid, mari kita muasabah diri kita, melaksanakan shalat tawih dengan betul-betul mengharap ampunan Tuhan dengan shalat yang khusyu’, Menjaga mata dan mencegahnya dari menatap segala yang cela dan dimakruhkan kepada segala yang menuntun hati kepada mengingat Allah, Mencegah anggota-anggota badan yang lain dari segala dosa, memiliki kesadaran untuk selalu menahan keinginan-keinginan lahiriah yang berupa anggota-anggota badan dengan kenikmatan yang diinginkan oleh anggota-anggota tersebut. Tujuannya untuk menemukan kenikmatan yang sebenarnya yakni ketenangan dan keterangan batin. Saat manusia terjerumus dalam hawa-nafsu maka ia turun ke tingkat hewan. Dan sewaktu ia mencegah diri dari hawa-nafsu, maka ia terangkat ketingkat malaikat.

Terakhir penulis ingin sampaikan salah satu kata bijak yang disampaikan Imam al-Gazali:

فإذن قد ظهر أن لكل عبادة ظاهرا وباطناوقشرا ولبا ولقشرها درجات ولكل درجة طبقات فإليك الخيرة الآن في أن تقنع بالقشر عن اللباب أو تتحيز إلى غمار أرباب الألباب

Jadi, telah teranglah, bahwa bagi tiap-tiap ibadah itu mempunyai dhahir dan batin, kulit dan isi. Dan kulitnya itu mempunyai beberapa derajat dan bagi tiap-tiap derajat mempunyai beberapa lapisan. Maka kepadamulah sekarang, untuk memilih, apakah engkau cukupkan dengan kulit saja, tanpa isi atau engkau menceburkan diri kepada lapisan isi.

Penulis adalah Mahasiswa Pasca Jurusan Studi al-Qur'an dan al-Hadis Fakultas Ushuluddin, Filsafat dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Parappe